LPM Kinday

Kabar Kampus Universitas Lambung Mangkurat

Dalam Hujan Tersembunyi

Di balik kota yang ramai, seorang jurnalis muda bernama Dita. Dia selalu mencari cerita di tempat-tempat terpencil, di mana suara hujan sering menjadi satu-satunya melodi yang terdengar.

Pada suatu hari, Dita mendengar kabar tentang sebuah desa terpencil yang terkena dampak banjir akibat hujan deras. Tanpa ragu, dia memutuskan untuk pergi ke sana dan melaporkan tentang kondisi desa tersebut.

Tiba di desa itu saat hujan masih turun dengan lebatnya, Dita melihat pemandangan yang mengharukan. Rumah-rumah terendam air, penduduk desa berusaha menyelamatkan harta benda mereka, sementara anak-anak bermain di genangan air dengan ceria.

Dita tidak ragu untuk turun tangan membantu. Dia mengambil kamera dan mencatat setiap momen dramatis yang terjadi di desa itu. Dia juga berbaur dengan penduduk, mendengarkan cerita mereka, dan mencatat setiap detail tentang keadaan mereka.

Di tengah-tengah kesibukannya, Dita bertemu dengan seorang nenek yang duduk sendirian di teras rumahnya yang tergenang air. Nenek itu bercerita tentang bagaimana desa itu pernah menjadi tempat yang damai sebelum banjir melanda.

Dita tergugah oleh cerita nenek itu. Dia memutuskan untuk memberikan suara kepada penduduk desa yang terpinggirkan ini. Dengan tulisan dan foto-fotonya, Dita berhasil mengangkat perhatian publik tentang kondisi desa tersebut.

Meskipun hujan terus turun, semangat jurnalis Dita tidak pernah padam. Dia melihat setiap tetes hujan sebagai bagian dari cerita yang harus diceritakan kepada dunia. Dan di dalam hujan yang turun, tersembunyi kisah-kisah yang membutuhkan suara untuk didengar.

Dita tidak hanya memberitakan kondisi desa tersebut, tetapi juga terlibat dalam upaya bantuan dan pemulihan. Dia bekerja sama dengan organisasi amal untuk menyediakan bantuan darurat, seperti makanan, air bersih, dan perlengkapan tidur, kepada penduduk desa yang terkena dampak banjir.

Saat hujan masih turun, Dita bekerja tanpa lelah, memastikan bahwa bantuan sampai ke tangan yang membutuhkannya. Dia tidak hanya melaporkan tragedi, tetapi juga mencoba membawa harapan dan kepedulian kepada orang-orang yang terkena dampaknya.

Selama berada di desa tersebut, Dita juga menemukan banyak kisah inspiratif tentang ketahanan dan solidaritas. Dia menulis tentang keberanian penduduk desa yang saling membantu satu sama lain, tentang anak-anak yang tetap ceria meskipun dihadapkan pada kesulitan.

Melalui tulisannya, Dita berhasil menggerakkan hati banyak orang. Bantuan terus mengalir ke desa tersebut, baik dalam bentuk materi maupun dukungan moral. Desa yang awalnya terpencil dan terlupakan, kini menjadi pusat perhatian dan kepedulian.

Setelah berhari-hari bekerja di desa itu, akhirnya hujan reda. Langit cerah menggantikan awan kelabu yang selama ini mendominasi. Penduduk desa bersyukur karena bencana banjir telah berlalu, namun mereka tidak akan melupakan bantuan dan perhatian yang telah mereka terima.

Dita pun meninggalkan desa tersebut dengan hati yang penuh haru. Meskipun hujan telah berhenti, namun kenangan tentang desa dan penduduknya tetap mengalir dalam pikirannya seperti aliran sungai yang tak pernah kering. Baginya, pengalaman itu bukan hanya sekadar cerita untuk ditulis, tetapi juga pelajaran tentang kekuatan solidaritas dan kepedulian manusia dalam menghadapi cobaan alam.

*****

Penulis: Indah Jumiatin

Redaktur: Laily Arista Rahmi