Persmakinday – Terdapat kontradiksi antara kemauan diri untuk mengembangkan potensi dengan berlaku mager alias malas gerak. Ini seperti ingin cepat kaya namun usaha untuk mencapai hasil tersebut nol besar, alias tidak melakukan apa-apa. Sebagian orang menganggap bahwa mager adalah problem yang kontemporer yang bisa selesai setelah melakukan self-reward. Entah dengan malas bergerak untuk sesaat, menunda pekerjaan untuk sementara, dan berlaku adil kepada tubuh dan pikiran untuk istirahat.
Alasan klise di atas dianggap wajar jika dilakukan hanya sesekali atau dua kali, tetapi jika dilakukan secara terus menerus, yang awalnya dikatakan self-reward malah kebablasan menjadi laziness. Kemungkinan, kelak akan berdampak buruk bagi mereka yang senantiasa menolak untuk bergerak dan mengembangkan diri.
Seperti yang kita ketahui, mengembangkan diri adalah aktivitas yang meliputi segala bentuk pengembangan bakat, sikap, perilaku, kepribadian, dan potensi diri, membangun sumber daya manusia dan memfasilitasi kinerja untuk berkontribusi dalam mewujudkan impian dan cita-cita.
Pertanyaannya, bagaimana bisa dengan mager namun ingin cita-cita di masa depan terwujud, sedangkan kita masih berleha-leha seakan-akan penyesalan tidak seburuk yang dibayangkan.
Untuk mendapat hasil yang maksimal tentu kita harus membuang rasa mager tersebut dan mulai bergerak, bukan?
Jika kamu tidak terlahir dengan sendok emas, setidaknya berusahalah mengubah sendok perakmu menjadi emas. Sadar diri adalah bentuk penerimaan terhadap keadaan yang lazim dilakukan agar kita tidak terbuai dalam nyamannya berleha-leha.
Yang perlu diingat adalah kita punya tanggung jawab terhadap diri sendiri juga orang terdekat. Sebuah penyesalan memang selalu datang di akhir, dengan mencegah penyeselan diakhir hendaknya kita mengingat akan cita-cita yang masih panjang jalannya serta dukungan finansial dan moral dari orangtua. Ingat, yang bisa mengubah diri kita sendiri adalah hanya diri kita, orang lain hanya menjadi figuran yang seperti cheerleader hanya bisa menyemangati dan mendorong agar kita bergerak.
Niat adalah keinginan hati untuk melakukan suatu tindakan. Jika hati tidak ingin bertindak, apakah anggota tubuh yang lain bergerak?
Saya akan memberikan saran yang mudah dilakukan oleh para penganut magernisme di luar sana yaitu dalam satu hari mulailah kerucutkan hal-hal yang ingin dikerjakan. Buat lah daftarnya, misal ada tiga pekerjaan yang harus dikerjakan di hari tersebut. Prioritaskan tiga hal tersebut, agar eksekusinya tercapai jauhkan segala benda yang menghalangi kamu untuk bergerak. Misal dinginnya kasur di malam hari bisa membuat mata terlelap, kurangi sosial media, dan duduk santai di meja belajar. Lalu mulailah mengerjakan pekerjaan dengan santai namun tetap konsisten.
Setelah selesai melakukan pekerjaan yang diprioritaskan setiap harinya, bolehlah bersantai selama 30 menit atau langsung check out barang yang terpendam di keranjang market online kita.
Kesimpulannya, semua pilihan ada di tangan masing-masing dari kita. memilih untuk melanjutkan rasa mager atau bangkit dan mulai menyingsingkan lengan. Semua hari-hari kalian produktif ya.
Oleh : Mahdayati
Banjarmasin, 22 April 2026 ‒ Setelah aksi pertama pada 17 April lalu gagal menyampaikan aspirasi…
Banjarmasin, 25 Maret 2026 — Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali meraih prestasi membanggakan. Muhammad…
Banjarmasin, 2 September 2025 — Ratusan massa aksi yang tergabung dalam aliansi rakyat Kalimantan Selatan…
Banjarmasin, Senin 1 September 2025 – Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof. Dr. Ahmad Alim…
Banjarmasin, 1 September 2025 – Presiden Prabowo Subianto menggelar konferensi pers di Istana Negara pada…
Banjarmasin, 1 September 2025 – Forum Mahasiswa KIP Kuliah Universitas Lambung Mangkurat (FORMAKIP-K ULM) resmi…