Banjarmasin, 17 April 2026 ‒ Sejumlah masyarakat Kalimantan Selatan menggelar aksi demonstrasi di Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Selatan pada Jumat (17/4/2026). Massa membawa agenda bertajuk “Reset Indonesia” sebagai bentuk penyampaian aspirasi terhadap berbagai persoalan hukum, sosial, dan lingkungan.
Aksi Reset Indonesia di Banjarmasin ini berlangsung dengan tujuan menyuarakan tuntutan yang mereka rangkum sebagai “Tuntutan Rakyat Kalsel”. Berdasarkan laporan dari Tribun News, massa menyusun sembilan poin utama. Pertama, mereka mendesak aparat penegak hukum untuk mengungkap aktor intelektual serta pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus. Kedua, mereka menuntut proses hukum yang berjalan secara jujur dan transparan.
Selanjutnya, massa menolak pelimpahan kasus ke Puspom TNI karena berpotensi menimbulkan persoalan hukum baru. Mereka juga meminta pemerintah mengevaluasi transparansi anggaran dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, massa menolak penggusuran lahan di Sidomulyo, Banjarbaru, yang diduga melibatkan aparat TNI. Mereka juga mengecam dugaan kriminalisasi terhadap warga setempat.
Tidak hanya itu, massa mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk menghentikan praktik tambang ilegal. Mereka juga menuntut pemberantasan mafia tanah serta penanganan serius terhadap pencemaran lingkungan. Di sisi lain, massa meminta pembebasan tahanan politik dan menolak penetapan Taman Nasional Meratus.
Sebagai tuntutan terakhir, massa mendesak Presiden dan DPR RI untuk segera mengesahkan undang-undang yang berpihak kepada rakyat. Mereka berharap kebijakan yang diambil dapat memberikan keadilan bagi seluruh masyarakat.
Namun demikian, aksi demonstrasi tersebut tidak berlangsung kondusif. Aparat kepolisian bersama pihak keamanan menghentikan jalannya aksi sebelum seluruh aspirasi tersampaikan. Kondisi ini menyebabkan massa tidak dapat melanjutkan kegiatan sesuai rencana.
Akibat penghentian tersebut, massa memutuskan untuk menunda aksi dan merencanakan kelanjutan demonstrasi pada waktu yang akan datang. Mereka menegaskan bahwa perjuangan untuk menyampaikan aspirasi tidak akan berhenti.
Dengan demikian, aksi “Reset Indonesia” di Banjarmasin menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam menyuarakan berbagai persoalan yang dianggap penting. Meskipun sempat terhenti, semangat massa untuk memperjuangkan tuntutan tetap terlihat kuat dan konsisten.
Baca juga: Mahasiswa ULM Raih Prestasi Gemilang, Angkat Isu Anti-Bullying melalui Gagasan Kreatif
Sumber tambahan
Tribun News http://Banjarmasinpost.co.id https://share.google/cYG2fqOn70L1mLqAZ
Banjarmasin, 25 Maret 2026 — Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali meraih prestasi membanggakan. Muhammad…
Banjarmasin, 2 September 2025 — Ratusan massa aksi yang tergabung dalam aliansi rakyat Kalimantan Selatan…
Banjarmasin, Senin 1 September 2025 – Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof. Dr. Ahmad Alim…
Banjarmasin, 1 September 2025 – Presiden Prabowo Subianto menggelar konferensi pers di Istana Negara pada…
Banjarmasin, 1 September 2025 – Forum Mahasiswa KIP Kuliah Universitas Lambung Mangkurat (FORMAKIP-K ULM) resmi…
Banjarmasin, 18 Agustus 2025 – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FKIP Mengajar Universitas Lambung Mangkurat resmi…