
Pada malam hari di Desa Kenanga, seorang lelaki berusia 17 tahun bernama Jevan, duduk termenung di kursi kayu yang hampir rapuh di teras rumahnya. Ia tampak gelisah, menunggu sang Ayah yang masih tak kunjung datang ke rumah, padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Tak lama kemudian, datanglah Ayah Jevan dengan membawa sekotak martabak telur di tangan, dengan raut wajah tersenyum lelah.
“Ayah, kenapa datang telat? Biasanya, tidak sampai jam delapan malam,” tanya Jevan dengan wajah khawatir.
“Oh, itu! Tadi, Ayah ada sedikit kerjaan tambahan bersihin halaman rumah Pak Hamdan, kamu lapar, kan? Nih, Ayah belikan martabak kesukaan kamu. Ayo, Nak, kita masuk ke dalam!” jawab Pak Dharma sambil menyerahkan martabak itu kepada Jevan.
Namun, Jevan tetap diam. Ia tidak langsung mengikuti Ayah masuk ke dalam rumah. Bukannya senang mendapat martabak, hatinya justru semakin sesak. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Matanya menatap wajah Ayahnya dengan sorot yang sulit diartikan, marah dan sedih bercampur menjadi satu.
Pak Dharma yang baru saja hendak membuka pintu rumah, tiba-tiba, merasakan ada yang aneh. Ia menoleh, dan menemukan anaknya masih berdiri di tempat, menatap dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Yah! Jevan pernah bilang, kan?! Berhenti kerja sebagai buruh tani harian! Apalagi kerja di bawah tangan Pak Hamdan!” suara Jevan bergetar, mencoba menahan emosinya.
Pak Dharma, terkejut dengan reaksi putranya. “Loh? Kamu kenapa begitu, Jevan? Ayah kan dibayar!” sahutnya, masih berusaha tenang.
Jevan menggeleng, nafasnya tersengal seiring dengan gejolak di dadanya.
“Jevan sering bersabar, Yah! Hampir setiap hari, Jevan diejek teman-teman di sekolah karena Ayah dianggap babu-nya Pak Hamdan!” ucapnya dengan suara bergetar.
“Ayah kan tahu sendiri, Aryo itu anaknya Pak Hamdan! Dia sering menghina Ayah! Sudah ya, Yah? Pokoknya Jevan tidak ingin lagi Ayah kerja di sawah Pak Hamdan!”
Pak Dharma menghela napas panjang. Raut wajahnya seketika berubah lebih serius, tapi tetap lembut. “Nak, tidak mengapa! Kamu tidak perlu memikirkan omongan mereka! Selagi kita mencari rezeki secara halal, itu tidak akan membuat rugi mereka!” kata Ayah, berusaha menenangkan Jevan.
Namun, kata-kata itu justru membuat Jevan semakin jengkel.
“Ayah mana paham, kalau ada di posisi Jevan!” seru Jevan, matanya kini benar-benar berkaca-kaca.
“Kalau Ayah masih bekerja dengan Pak Hamdan, lebih baik, Jevan berhenti sekolah saja!”
Tanpa diperintah, air mata Jevan jatuh begitu saja. Ia segera membalikkan tubuh, melangkah cepat menuju kamarnya dengan langkah yang berdentum-dentum, seolah ingin menunjukkan betapa marahnya ia.
Rasa kesal masih menggumpal di dadanya. Entah mengapa, hari ini terasa begitu buruk baginya. Padahal, sejak pagi, ia sudah berencana memberi tahu Ayah bahwa tunggakan SPP-nya sudah menunggak dua bulan. Jika tidak segera dilunasi, ia tidak bisa mengikuti ulangan. Namun, melihat Ayah yang baru saja pulang, tubuh yang lelah, dan wajah sedikit kusam, Jevan mengurungkan niatnya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan pelan di pintu. Pak Dharma, berdiri di depan kamar putranya, menunggu jawaban. Namun, Jevan tetap diam. Bukan karena tidak mendengar, tetapi karena ia tidak ingin berbicara dengan siapa pun saat ini. Jevan hanya ingin sendiri, tenggelam dalam pikirannya yang semakin kusut.
“Jevan, Nak! Makan dulu! Kamu belum makan kan setelah pulang dari sekolah?” suara Ayahnya terdengar lembut dari balik pintu.
Tidak ada jawaban. Jevan tetap membisu, menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan datar. Perutnya memang kosong, tapi ia tak punya selera makan.
“Kalau kamu marah dengan Ayah, Ayah minta maaf, Nak! Tapi Ayah ingin Jevan tahu, bekerja di tempat Pak Hamdan itu penghasilannya cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari. Pak Hamdan orang yang baik, dan Ayah tidak merasa terbebani atau malu bekerja di sana.” kata Ayah Jevan dengan suara yang lembut.
Jevan masih tak menanggapi, ia tahu Ayahnya bekerja keras untuk mereka, tapi ia juga tak bisa mengabaikan rasa sakit hati yang ia alami di sekolah.
“Kalau teman-teman di sekolah sering mengejek, sampai membuat sakit hati, kamu bisa pindah sekolah! Ayah akan usahakan!” ucap Pak Dharma, sembari berharap ada sedikit reaksi dari anaknya.
Di dalam kamar, Jevan mengepalkan selimutnya. Haruskah ia benar-benar pindah sekolah? Atau haruskah ia terus bertahan dengan semua hinaan itu?
“Tapi, Ayah mohon…” suara Ayahnya terdengar lirih.
“Jangan berpikir untuk berhenti sekolah! Pendidikan itu yang paling utama, Nak!”
Jevan tahu Ayahnya benar, tetapi beban yang ia pikul terasa begitu berat.
“Jangan marah dengan Ayah, ya, Nak? Sekarang, kamu keluar kamar dulu! Makan bersama Ayah, Ayo!” kata Pak Dharma dengan segala usaha agar anaknya segera makan.
Jevan perlahan membuka pintu kamar. Pak Dharma, yang sejak tadi diliputi kekhawatiran, seketika tersenyum lega melihat putranya keluar.
Jevan hanya menunduk, lalu mengikuti langkah Sang Ayah menuju dapur. Di meja makan, hanya ada dua gelas berisi air putih, sepiring martabak telur, dan nasi putih. Mereka memang sering makan martabak dengan nasi agar lebih hemat.
Saat mereka mulai makan, suasana tetap hening. Hingga akhirnya, suara serak Jevan memecah keheningan.
“Yah…”
Pak Dharma menghentikan kunyahannya. “Iya, Nak? Kenapa?”
Jevan masih menunduk, ragu untuk menatap wajah ayahnya.
“Tadi, di sekolah, wali kelas menagih SPP Jevan yang sudah dua bulan menunggak. Kalau tidak segera dibayar, Jevan tidak bisa ikut ulangan, Yah.”
Pak Dharma terdiam. Ia menatap putranya tanpa berkata apa-apa, membuat Jevan semakin gelisah.
“Eh! Tapi, kalau Ayah belum bisa sekarang, tidak mengapa, Yah.”
Jevan buru-buru menambahkan. “Nanti, Jevan coba minta keringanan waktu lagi sama wali kelas.”
Pak Dharma menghela napas pelan. “Memangnya, ulanganmu kapan?”
“Besok, Yah…”
Jawaban itu membuat wajah Pak Dharma kembali terdiam. “Oh… Besok ya?” Ia menghela napas lagi, berpikir sejenak.
“Kalau Ayah minta keringanan satu hari, kira-kira gurumu masih bisa memberi waktu, tidak?”
“Semoga saja, Yah. Sepertinya wali kelas Jevan akan mengerti.”
Namun, tiba-tiba, Jevan kembali membuka suara, “Padahal… Jevan bisa saja berhenti sekolah, Yah. Biar bisa bantu Ayah kerja.”
Mata Pak Dharma terkejut mendengar ucapan itu. Ia meletakkan sendoknya dengan tegas. “Jangan bicara begitu, Jevan!”
Jevan tersentak. Ia menatap ayahnya sekilas, lalu kembali menunduk.
“Kalau yang kamu khawatirkan soal keuangan, memang benar keadaan kita pas-pasan. Tapi Ayah masih sanggup menyekolahkan kamu! Selama Ayah masih bisa bekerja, kamu tidak perlu berpikir untuk berhenti sekolah!”
Jevan tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya diam, lalu perlahan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya, menghabiskan nasi yang masih tersisa di piringnya.
***
Udara subuh terasa sejuk, dengan embun yang masih menempel di dedaunan. Langit perlahan mulai terang, suara adzan berkumandang. Suara ayam yang saling bersahutan, membangunkan orang-orang dari tidurnya.
Pak Dharma membangunkan putranya untuk salat ke Masjid bersama-bersama. Jevan yang masih nyenyak tidurnya, sempat menolak ajakan dari sang Ayah dan mengatakan bahwa ia akan salat di rumah saja. Namun, Pak Dharma tetap memaksa Jevan untuk bangun, mengingatkan bahwa laki-laki memiliki kewajiban untuk salat berjamaah di Masjid.
Setelah selesai salat berjamaah di masjid, Jevan bergegas pulang dan segera mengenakan seragam sekolahnya. Pagi ini, ada hal yang memenuhi pikiran Jevan. Hari ini, ia harus berbicara dengan wali kelasnya mengenai tunggakan SPP, yang belum terbayar selama dua bulan. Kemungkinan besar, tidak akan ada keringanan lagi. Jika itu terjadi, mungkin untuk pertama kali dalam hidupnya, ia akan membolos.
Saat masih merapikan dasi, terdengar suara ketukan pelan di pintu kamar Jevan yang tidak tertutup.
“Jevan, ke sini sebentar!” panggil suara Ayahnya.
Jevan segera menghampiri, sambil memasang dasi yang masih belum terpasang sempurna di kerah baju.
“Ada apa, Yah?” tanya Jevan penasaran.
Pak Dharma tersenyum kecil, kemudian mengulurkan segepok uang seratus ribuan yang lebih dari sepuluh lembar.
“Ini, buat bayar SPP yang sudah nunggak dua bulan.”
Mata Jevan melotot, ia terkejut sekaligus heran.
“Loh?! Bukannya Ayah bilang, butuh satu hari lagi untuk dapat uangnya? Terus ini… dari mana?” tanyanya penuh kebingungan.
Pak Dharma menghela napas.
“Tadi malam, Ayah meminjam dulu ke Pak Hamdan. Gaji harian Ayah akan dipotong sampai lunas.”
Pak Dharma menepuk bahu Jevan, “Kamu tidak perlu memikirkan ini, Nak! Ayah bisa cari kerja tambahan buat kebutuhan sehari-hari kita. Rezeki sudah ada yang mengatur, asal kita pandai bersyukur!”
Jevan terdiam, menatap wajah Ayahnya yang dipenuhi kerutan. Hatinya terasa sesak, tak pernah ia bayangkan Ayahnya berusaha sejauh ini.
Tangan kasar nan keriput itu mengusap pelan tangan anak semata wayangnya. “Semangat sekolahnya, Jevan. Biar bisa menjadi orang sukses!” ujar Pak Dharma dengan senyum layu.
“Apapun yang terjadi hari ini, fokuslah pada ulanganmu, ya?” lanjut Pak Dharma.
“Iya, Yah…” Jevan mengangguk pelan.
Setelah selesai percakapan itu, Jevan bersiap sarapan. Namun, saat hendak mengajak Ayah makan bersama, ia melihat Ayah sudah merebahkan diri di kasur.
“Yah, tidak sarapan? Ayo! Makan bersama Jevan!” ajaknya.
Pak Dharma menggeliat tanpa membuka mata. “Kamu duluan saja! Ayah nanti.”
“Tumben sekali,” gumamnya sambil terkekeh.
“Nanti Ayah sarapan. Sekarang rasanya ngantuk sekali,” jawab Pak Dharma.
Jevan menghela napas.
“Tidur saja, Yah. Istirahat. Kalau bisa, jangan kerja dulu hari ini,” sarannya.
“Justru kalau tidak kerja, malah makin terasa lelahnya,” ucap Pak Dharma pelan dengan senyuman tipis.
“Ya sudah! Jevan sarapan dulu, ya?” ujar Jevan sambil melangkah ke dapur.
Namun, baru beberapa langkah, Pak Dharma memanggil anak itu.
“Nak.” Jevan berhenti, menoleh.
“Tolong seduhkan kopi untuk Ayah, bisa?! Hari ini rasanya dingin sekali. Ayah malas ke dapur, masih ingin rebahan, hahaha.”
“Iya, Yah. Tunggu, ya?!” Jevan tersenyum tipis.
Ia segera menuju dapur dan menyiapkan secangkir kopi panas. Setelah selesai, ia membawanya ke kamar Pak Dharma.
“Nih, Yah! Hati-hati, masih panas!” katanya sambil menyerahkan cangkir.
Pak Dharma melirik sebentar, lalu mengangguk. “Letakkan saja di meja itu,” ujarnya, masih menutup mata.
Jevan mendengus. “Ih, Ayah! Nanti keburu dingin!”
Pak Dharma terkekeh pelan. “Iya, iya! Nih, Ayah minum sekarang!”
Pak Dharma meniup kopi itu perlahan, menyeruput sedikit, lalu tersenyum puas.
“Wih, rasanya badan Ayah hangat kembali! Terima kasih, anak Ayah!”
“Tidak perlu berlebihan, Yah!” Jevan menggeleng sambil tertawa.
***
Meskipun hari ini adalah hari pertama ulangan semester satu bagi Jevan di kelas 11 IPS, upacara bendera hari Senin di SMAN 1 Garuda, tetap berlangsung seperti biasa.
Sekarang sesi amanat dari Kepala Sekolah tengah berlangsung sudah sekitar 30 menitan, masih tak kunjung selesai, kakinya terasa semakin pegal.
Di sela-sela menunggu sesi amanat selesai, tiba-tiba tangan Jevan di tarik cukup kuat. Ia menoleh kaget, mendapati bahwa yang menarik Jevan adalah wali kelasnya, Bu Ainun. Kebetulan, Jevan memang berdiri di barisan paling belakang, sehingga tidak terlalu menarik perhatian banyak orang.
“Eh?! Kenapa, Bu?” tanya Jevan dengan suara pelan namun penuh kebingungan.
“Kamu, pulang sekarang juga!” perintahnya dengan nada mendesak.
Jevan terbelalak. Ia merasa ada sesuatu yang aneh.
“Kenapa saya harus pulang, Bu?! Setelah upacara ini selesai, saya akan bayar SPP!” jawabnya dengan raut kesal. Ia yakin, pasti dirinya akan diusir dari sekolah karena masih tidak membayar SPP.
Bu Ainun menelan ludah, tampak kesulitan untuk mengutarakan kata-kata selanjutnya.
“Itu… Ayah kamu sudah meninggal, Jevan! Kamu cepat pulang! Nih, tas kamu!”
Waktu terasa berhenti.
Dunia seakan runtuh.
Dadanya sesak, napasnya tercekat, dan jantungnya berdetak tak beraturan. Kata-kata itu bergema di kepala Jevan, ia tidak ingin percaya.
Jevan merasa lututnya sangat lemas. Ia hampir saja jatuh jika saja nalurinya tidak menyuruhnya untuk berlari. Kakinya bergerak begitu saja, menembus kerumunan siswa yang masih berbaris rapi. Jevan tak peduli tatapan aneh teman-temannya.
Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Pikirannya hanya satu!
Aku harus sampai di rumah… Aku harus melihat Ayah…
Sesampai di halaman rumahnya yang sempit, Jevan langsung terpaku. Beberapa tetangga tengah memasang bendera hijau—tanda bahwa ada kematian di rumah itu. Jevan tercekat, nafasnya mati rasa, ia ingin berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Dengan langkah tertatih, ia masuk ke dalam rumah. Jevan semakin gemetar, saat melihat sosok terbaring lemah itu sudah ditutupi kain putih.
Tidak… ini tidak nyata… ini pasti hanya mimpi buruk…
Tangan Jevan terangkat, gemetar, ia membuka kain putih yang menutupi wajah Ayahnya.
Pak Dharma terbaring dengan wajah damai, tanpa ada raut kesakitan. Senyum lembut masih terukir di bibirnya, seolah ingin menenangkan hati putra semata wayangnya bahwa akan baik-baik saja.
Jevan menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isakan yang semakin pecah.
“Yah… Kok Ayah meninggalkan Jevan sendirian?!” raungnya, air mata jatuh deras membasahi pipi.
Tubuhnya bergetar hebat, kepalanya terguncang. Ia mengguncang-guncang tubuh Ayahnya, berharap ada keajaiban, berharap sosok yang terbaring itu membuka mata lagi.
“Ayah belum lihat Jevan sukses, Yah! Kok, Ayah tega dengan Jevan?! Jevan mana bisa hidup tanpa sosok Ayah!”
Jevan kembali mengguncang tubuh Ayahnya.
“Seharusnya, sebelum Ayah meninggalkan Jevan, Ayah tampar Jevan dulu sampai babak belur karena pernah melawan Ayah… Maafkan Jevan, Yah!”
Tubuhnya memeluk sosok yang sudah tidak bernyawa itu, Jevan berteriak histeris, tangannya mencengkeram kain yang menutup tubuh Ayahnya. Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan.
Beberapa tetangga mendekat, berusaha menenangkan Jevan. Pak Hamdan memeluknya erat, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
“Sabar, Nak… Ayahmu orang baik… Pasti sudah tenang di sana…” bisik Pak Hamdan dengan suara yang ikut bergetar.
***
Tak terasa, sudah tiga hari sejak kepergian sosok Ayah. Anak itu duduk melamun di depan kamar Pak Dharma dengan mata yang sembab, menatap secangkir kopi buatan dirinya yang masih belum sempat dihabiskan oleh Sang Ayah. Kopi itu kini dikerumuni semut, yang tidak dipedulikan oleh Jevan.
“Yah, pasti sekarang sudah tidak merasakan sakit lagi, kan? Bahagia selalu, Yah!” Kata Jevan dengan senyuman tipisnya.
Jevan meraih kopi yang dingin itu dengan tangan yang gemetar, “Maaf, Jevan belum pernah mengatakan kalau Jevan mencintai Ayah. Dari lubuk hati paling dalam, Jevan selalu mencintai sosok yang sudah menemani hidup Jevan. Terima kasih, Ayah!”
Aroma gula dan kopi yang biasa menenangkan kini justru membuat dadanya sesak. Jevan tidak menyangka itu akan menjadi kopi terakhir Ayah.
Jevan duduk di tepi kasur Ayah yang sudah lusuh, memandangi langit-langit kamar yang mulai mengelupas. Matanya berat, tapi hatinya jauh lebih sesak. Malam ini, dan seterusnya, rumah akan terasa sepi.
Menurut cerita tetangga, Pak Dharma awalnya sedang asyik berbincang di depan rumah bersama para tetangga. Namun, sekitar 20 menit kemudian, ia tiba-tiba tumbang. Saat diperiksa dokter, diketahui bahwa Pak Dharma mengalami serangan jantung mendadak.
“Ayah pasti capek, ya? Tapi, Jevan malah marah-marah… Seandainya waktu bisa diulang… Jevan ingin minta maaf, Yah.” Ia menghela napas panjang, suaranya bergetar.
Jevan tidak pernah kepikiran, makan malam, dan salat bersama itu menjadi kebersamaan terakhirnya dengan Ayah.
Karya: Miftahul Janah
Ilustrasi: Pollinations AI
