LPM Kinday

Kabar Kampus Universitas Lambung Mangkurat

Kereta Api Kosmik

Oleh: Noor Hidayah

Emirates Airline

Dubai, 20**

Modern. Mewah. Megah. Mengagumkan. Apa lagi yang terlewat?

Semua julukan itu bahkan tidak cukup untuk kusematkan pada negara yang bagiku super-ultra-modern ini. Dubai, kota termewah di Uni Emirat Arab, yang seketika menjadi tempat kunjungan dadakanku. Aku bahkan baru menginjakkan kakiku barang sejengkal setibanya, namun segala arsitektur bandaranya sudah cukup membuatku ternganga lebar.

Negeri ini seperti dibangun oleh para arsitek jenius nan luar biasa. Bagiku sangat menarik ketika gedung-gedung tinggi itu dapat berdiri kokoh di tengah padang pasir yang pastinya membutuhkan kontruksi begitu sulit. Lamat-lamat kuperhatikan kesibukan yang ada ketika langkahku sudah keluar dari bandara. Lalu aku semakin terbungkam oleh rasa kagum. Ada semacam euforia padaku terhadap tempat ini. Mungkin juga sebentuk ketidakpercayaan, karena ini juga pertama kalinya aku melakukan perjalanan lintas waktu ke tempat ini.

Ya, aku seorang penjelajah waktu.

Ah, bukan. Maksudku ini pertama kalinya aku terlempar oleh waktu.

Entah bagaimana aku harus menjelaskannya, tapi aku yakin aku sedang melakukan perjalanan waktu. Aku bahkan sempat berpikir aku berada di dunia lain. Kalian tahu alternate universe? Mungkin seperti itu, yang kuingat hanyalah sebuah cahaya menembus dari arah depanku ketika berada di dalam sebuah kereta. Udara kemudian terasa lebih dingin namun berangsur menjadi hangat.  Lantas tiba-tiba aku berada di sebuah lapangan yang ramai berbeda dari tempatku yang awal, tentu saja aku menyadari aku telah terlempar oleh waktu ketika apa yang kulihat sangatah,  aku tidak bisa menjabarkannya. Tapi, aku tahu ini adalah Dubai.

Bukannya sok tahu, tapi kalian pasti akan terkejut jika menjadi aku. Hei, aku bahkan  hampir tidak yakin ini benar tubuhku jikabukan rasa sakit cubitan di pipi. Benar saja, aku mendadak menembus waktu dan sekarang aku lengkap dengan sepaket barang bawaan yang tak lain adalah koper yang kuyakini berisi pakaian, kemudian paspor dan visa seolah aku datang dengan normal ke tempat ini─aku tahu ini Dubai karena melihat cap di pasporku.

Lantas sekarang aku tidak tahu harus ke mana. Memang aku mengagumi tempat ini dengan segala ke superiorannya, tetapi sekarang aku seperti turis asing yang tersesat. Hal lain benar-benar mengusikku ketika pikiran buruk bertebaran di benakku. Ketakutan diculik di negeri orang benar saja membuatku menelan ludah. Tunggu, apa di masa depan masih ada penculikan?

Tidak ingin hal itu terjadi, bergegas aku merogoh semua kantong celana dan jaketku. Berusaha mencari petunjuk tentang tujuan apa yang membawaku kemari. Sesaat aku terlihat konyol dengan orang-orang yang menatap aneh padaku. Mungkin sekarang mereka akan menganggapku gila ketika aku terpekik menemukan sebuah tiket liburan dengan pelayanan hotel gratis yang sudah di reservasi. Bukannya apa, tapi yang benar saja aku akan menginap di Burj Al-Arab?! Astaga—itu adalah sebuah hotel mewah berbintang tujuh dengan area pantai di Dubai. Harga per malamnya bisa mencapai ratusan juta, tapi sekarang aku?

Aku tersenyum lebar hingga bibirku rasanya nyaris robek.

Dan kemudian…

“Yahuuuuu!” aku berteriak kesenangan. Menari random hingga berpuluh pasang mata melirik ke arahku. Aku tak peduli, karena sekarang aku benar-benar senang. Aku kemudian berlari menghentikan sebuah taksi untuk memberiku tumpangan menuju hotel. Ah, ini mustahil kenapa aku justru merasa senang ketika terlempar ke lingkungan asing seperti sekarang. Rasanya seperti masih mimpi. Atau jangan-jangan aku memang mengalami lucid dream?

Jika itu benar, maka aku harus menikmatinya sebelum benar-benar terbangun.

***

Seperti perkiraanku hotel ini sangatlah mewah. Strukturnya yang bahkan menyerupai siluet kapal berlayar sudah berkali-kali membuatku berdecak kagum. Mataku bahkan sudah terpana ketika baru menginjak lobi. Pilar-pilar emas menjadi penopang bangunannya, lalu pada sisi kanan ada sebuah akuarium besar. Barisan butik barang-barang mewah juga ada di sana. Benar-benar menggambarkan luxury hotel.

Setibanya di kamar hotel aku kembali merasa nyaris gila. Kamarku memiliki dua lantai bahkan ketika aku hanya seorang diri yang akan menginap di sini. Pintunya besar terbuat dari kayu. Berlantai marmer dan sebuah tangga melingkar dihiasi karpet yang menghampar. Aku pikir kamarku terbuat dari emas ketika warna itu yang mendominasinya.

Sebenarnya kamar itu cukup menampung satu keluarga jika melihat dari luasnya. Aku melewati ruang keluarga yang berisi sofa-sofa besar, lalu ada ruang kerja, ruang makan, dan tempat penyimpanan koper—kutinggalkan koperku di sana. Lalu menuju kamar tidur yang berada di lantai dua.

Aku hampir terpekik ketika melihat ranjang itu begitu besar. Khas Timur Tengah dengan ornamen batu-batu permata yang menghiasi hampir seluruh isi kamar. Aku menemukan kamar mandi setelahnya, juga terbuat dari marmer dilengkapi dengan cermin besar dan sebuah bath tub melingkar. Seketika aku merasa seperti bangsawan mengingat aku akan menginap di sini.

Langkahku kembali kubawa masuk ke dalam kamar. Sesuatu kemudian menggelitikku untuk menilik tirai. Menggali rasa penasaran ketika cahaya matahari mengintip dari celah-celahnya. Perlahan tanganku membuka tirai besar itu dan seketika sebuah impresi menguar darinya. Lidahku tak henti-hentinya mendecakkan kagum.

Dubai berbalut senja, menjadikanya latar untuk gedung-gedung pencakar langit itu. Hanya beberapa bintang tampak di atas kota, tapi indah, membawa ketenangan yang mengendap dalam hatiku. Samar-samar aku mendengar sebuah suara musik yang melintas. Juga ada bunyi air yang mengalir, percikan yang samar, mendesir hingga ke telingaku. Ketika tirai itu kubuka lebih lebar, sebuah pertunjukan air mancur berebut masuk ke dalam pandanganku. Aku menatapnya kagum. Lalu yang kuingat kemudian aku berlari keluar dengan gembira.

***

Aku menatap kemeriahan pertunjukan air mancur yang penuh sesak dengan orang-orang. Para turis mengekspansi sudut-sudut lokasi hingga aku sulit mendapatkan tempat yang bagus.  Sempat aku bertanya pada turis asing yang lewat, ia berkata itu adalah Dubai Fountain, sebuah perayaan air macur termegah di dunia. Lantas dengan wajah berseri aku berlari menuju tepian untuk melihat pertunjukan, hingga sepatu yang kupakai nyaris terlepas.

Saking gembiranya, kakiku tersandung satu sama lain hingga membuatku hampir terjatuh. Tetapi beruntung aku mampu menyeimbangkan tubuhku dan kembali berlari. Aku tiba di tempat paling depan. Jantungku berdetak lebih cepat karena berlari dan rasa excited yang membuncah.

Aksi air mancur menari itu begitu spektakuler. Beberapa lampu sorot ikut mengiringi di waktu tertentu, serta musik yang menjadikannya semakin meriah. Aku semakin terpukau ketika melihat air mancur itu membumbung setinggi lima ratus kaki. Ah, aku harusnya mengabadikan ini dengan kamera untuk berjaga-jaga kalau semuanya kembali normal. Tapi bodohnya aku tidak membawanya.

Lupakan, sekarang aku hanya perlu menikmati ini tanpa mengkhawatirkan apapun. Aku dapat mendengar suara musik dari kejauhan, angin dan air yang bergema. Sebuah air mancur berbentuk mahkota brokat berkembang besar di langit.Ini puncaknya, tetapi aku merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba menyilaukan.

Suara kereta yang entah darimana asalnya tiba-tiba menggema dengan keras. Reflek aku menutup mata dan kedua telingaku. Aku merinding dan merasakantubuhku gemetar hingga kepalaku pusing. Ketika aku membuka mata yang terlihat hanyalah sayup-sayup keramaian pertunjukan air mancur itu.

Suara kereta kembali terdengar dan membuatku menoleh mencari asal suaranya. Dia datang dari sebuah lorong panjang yang gelap.

Semakin mendekat untuk menabrakku.

Nafasku berangsur sesak.

Clanggg!

Tidak, bukan rasa sakit terpental yang kurasakan. Lantas ketika aku berusaha membuka mata semuanya terasa memudar.

Kemudian yang aku tahu, kini aku  berada dalam sebuah kereta. Dia membawaku melintasi lorong yang panjang. Aku melongok ke belakang dan mendapati pemandangan air mancur itu memudar seperti abu yang tertiup angin.

Aku kebingungan tanpa mengerti apayang terjadi.

Dan semua menghilang sebelum aku sempat berkedip.

***

Rasanya seperti dijatuhkan dari langit.

Aku tersentak kaget dan membuka mataku lebar. Nafasku yang penuh sesak berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin. Jantungku berdetak begitu kencang seperti mesin tua yang kembali bekerja.

Aku kembali terlempar pada kenyataan sebenarnya.

Cahaya menyilaukan berangsur redup dan pandanganku perlahan kembali jelas. Setelah itu beberapa orang mengerumuni tubuhku yang terbaring di sebuah ranjang.

Mereka keluargaku.

“D-di-mana?” tanyaku lirih.

Ibuku menatapku penuh haru. “Rumah sakit, Sayang. Beruntunglah kau sadar dari koma.”

Koma?

Berarti aku hanya bermimpi?

Mataku berlarian arah, berusaha melihat ke sekitarku. Kepalaku terasa sangat kaku, jadi aku tidak bisa begitu leluasa untuk menggerakkannya.

Dari luar jendela, aku melihat sesuatu yang tak asing. Sebuah kereta melintas dengan cepat menuju langit. Semua itu merebut perhatianku tanpa peduli dengan kehadiran keluargaku. Seingatku kemudian mataku telah basah.

(Banjarmasin, 14 November 2018)

FIN